10 Pemberi Syafaat
Dari
Jabir berkata, “Aku mendengar Nabi saw bersabda, “Tiap-tiap hamba dibangkitkan
pada keadaan matinya.” (HR Muslim)
Para
ulama berpendapat, maksudnya adalah seorang hamba dibangkitkan dalam keadaan
yang dia mati padanya, sebagaimana pada hadist lain sesudahnya, yang
menyebutkan (kemudian mereka diutus sesuai niat mereka).
Awal penetapan hari kebangkitan,
manusia digiring menuju ke suatu padang luas (Padang Mahsyar) untuk dihisab.
Pada saat itu, setiap jiwa dibangkitkan sesuai akhir kehidupannya dahulu. Jika
ia mati dalam kondisi tercabik-cabik pedang, dia pun dibangkitkan dalam kondisi
tercabik-cabik. Jika akhir hidupnya dalam keadaan gantung diri, dia pun akan
dibangkitkan dalam keadaan gantung diri.
Semua manusia dikumpulkan untuk
mempertanggungjawabkan segala amalan di dunia. Tidak ada satu pun yang
tercecer, dari yang terkecil hingga yang terbesar. Terkadang orang sering
mengabaikan hal kecil karena dianggap remeh. Padahal, itu bisa menyulut sesuatu
menjadi besar. Segala amal manusia pasti dicatat, dibukukan, dan diserahkan
kepada masing-masing pemiliknya. Nilai rapot kehidupan dunia berdasarkan pada
amalan ang baik ataupun yang buruk.
Saat perhitungan amal ini,
orang-orang kafir dan munafik jelas paling menyesal karena kekufuran mereka
selama di dunia. Adapaun munafik bersikeras untuk disatukan dengan mukminin.
Mereka menyangka diri mereka adalah orang beriman semasa di dunia. Namun, usaha
mereka sia-sia. Status resmi sebagai penghuni neraka telah disahkan oleh
majelis pengadilan Allah.
Selesai pendataan atau hisab
tersebut, buku rapot berterbangan kea rah pemilik pasing-masing. Bagi orang
mukmin, mereka akan menerima dari arah depan dengan tangan kanan. Adapun rapot
orang kafir dating dari arah belakang sertai sodokan keras, lalu tangan kirinya
menerima rapot tersebut.
Proses penerimaan rapot berjalan
bersamaan dengan berlangsungnya mizan amalan. Betapa kompleks data-data serta
hujjah yang Allah SWT siapkan di pengadilan akhirat nanti. Hal itu membuktikan
keakuratan penilaian yang telah tercatat.
Ketika proses hisab tengah
berlangsung, ada momen dahsyat yang menunjukkan amalan seseorang semasa di
dunia, meski belum tiba gilirannya untuk dihisab. Orang-orang yang berkumpul di
sana merasakan kepanasan dan kepenatan tiada berujung. Kondisi panas itu
menghasilkan keringat. Seberapa banyak keringat dari setiap diri berbeda-beda.
Uniknya, kadar banyak sedikit keringat berdasarkan baik buruk amalan
masing-masing. Ada yang keringatnya semata kaki, sebetis, selutut, sepinggang,
sedada, bahkan berenang sembari timbul tenggelam dalam kubangan keringatnya
sendiri. Tampaklah baik buruk seseorang
meskipun belu dihisab. Pada momen seperti inilah, syafaat sangat dibutuhkan.
Setelah laporan nilai ditentukan,
dimulailah ketengangan selanjutnya, yaitu menyebrangi shirath (jembatan). Saat
inilah manusia berada pada puncak kecemasan dan ketakutan tiada berujung dan
membutuhkan para pembawa syafaat. Ada 10 pemberi syafaat yang menjadi syafi’
kelak diakhirat.
1. ALLAH AZZA WA JALLA
Allah SWT sebagai pencipta alam semesta
ini berhak mendapatkan hak-Nya. Hak sebagai Dzat pemilik sekaligus pengatur
jalan hidup makhluk di dunia maupun di akhirat.
“Katakanlah!
Pertolongan itu hanya milik Allah SWT semuanya. Dia memiliki kerajaan langit
dan bumi. Kemudian kepada-Nya kalian dikembalikan. (QS Az-Zumar:44)
Rasulullah S'AW bersabda: "Hingga akhirnya Al-Jabbar berfirman 'Yang
tersisa tinggal syafa'at-Ku'. Selanjutnya Allah Menggenggam dari neraka satu
genggaman untuk mengeluarkan kaum-kaum yang benar-benar telah hangus. Mereka
diletakkan di sungai bernama air kehidupan yang berada di mulut-mulut surga.
Selanjutnya mereka tumbuh di dua pinggirannya bagaikan biji-bijian yang tumbuh
di dalam bawaan banjir. Kalian pasti pernah menyaksikan hal tersebut di sisi
batu besar di sisi sebuah pohon. Yang condong ke arah matahari menjadi hijau;
sementara yang condong ke arah teduh memutih. Akhirnya mereka keluar dari
kawasan tersebut dalam keadaan indah mirip
sekali mutiara. Ada cap-cap yang dicap-kan di pundak-pundak mereka. Akhirnya
mereka masuk surga." (HR. Bukhari, 7439).
Kekuasaan di dunia dan di
akhirat berada di bawah kendali Allah SWT, tidak bisa diganggu gugat. Namun,
saat di dunia manusia masih diberi kebebasan. Adapun saat hari kiamat, semua
kekuasaan mutlak di tangan Allah SWT. Segala sesuatu yang terjadi di sana
bersih dari campur tangan makhluk. Saat itu mayoritas manusia mengalami
keputusasaan yang tiada berujung.
Bagi orang yang sering
berbuat maksiat dan belum sempat bertaubat, lalu mati dengan embawa banyak dosa
yang belum terhapus, jika di hatinya masih ada setitik keimanan, Allah SWT
telah menjanjikan surga tingkatan paling rendah buat mereka.
Baca juga
Pustaka
Habiby Ukasah. 2011. 10 Pemberi Syafaat: Mengenal para Penolong di
Hari Kiamat.
0 Response to "Sayafaat ALLAH AZZA WA JALLA - 10 Pemberi Syafaat"
Post a Comment