Bingung apa harus diucapkan ketika ada orang bersin? Simak ini!

Bingung apa harus diucapkan ketika ada orang bersin? Simak ini!

Malik bin Isma’il menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Aziz bin Abu Salamah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Dinar mengabarkan kepada kami, dari Abu Shalih yang artinya:
Dari Abu Hurairah ra dar Nabi saw, beliau bersabda: “Bilamana salah seorang diantara kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Jika ia mengucapkan ‘Alhamdulillah’ hendaknya saudaranya atau temannya mengucapkan ‘Yarhamukallah’ (semoga Allah SWT merahmatimu), dan hendaknya dia (yang bersin) mengucapkan ‘Y ahdiikumullaahu wa yuslihu balakum’ (semoga Allah SWT memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).

Tetapi..
JIKA YANG BERSIN TIDAK MEMUJI ALLAH SWT, MAKA TIDAK DIJAWAB DENGAN DO’A

Adam menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sulaiman At-Taimy menceritakan kepada kami, ia berkata yang artinya:
Aku mendengar Anas berkata, “Ada dua orang bersin dihadapan Nabi saw. Maka yang satu beliau jawab dengan do’a, sedangkan yang lain tidak. Lalu, salah seorang diantara mereka berkata, ‘Engkau jawab dia dengan do’a sedangkan aku tidak?’ Beliau menjawab, ‘Dia memuji Allah SWT sedangkan engkau tidak’.

Diriwayatkan Al-Bukhary: Kitab Al-Adab. Bab Lam yusyammitil ‘Athis idza lam yahmadillaha (6225), dan Muslim: Kitab Az-Zuhd. Bab Tasymmiyil ‘aathis wa karaahati at-tastaaub (53).

Kandungan Hadits:
1.      Al-Hafizh berkata, “Orang kafir tidak dido’akandengan do’a rahmat, akan tetapi dido’akan dengan hidayah dan perbaikan keadaan.
2.      Orang yang sedang mengalami sakit influenza setlah tiga kali (bersin) dido’akan dengan do’a kesehatan.
3.      Tidak wajib mendo’akan orang yang bersin ketika seseorang dalam keadaan yang tidak memungkinkan baginya berdo’a kepada Allah SWT.
4.      Tidak wajib mendo’akan orang yang memuji Allah SWT setelah bersin sementara imam sedang berkhutbah. Apabila yang bersin itu adalah khatib, dan dia telah memuji Allah SWT, maka hendaknya ia segera meneruskan khutbahnya. Apabila ia berhenti sejenak setelah memuji Allah SWT, maka hendaknya ido’akan dan itu tidak dilaran.
5.      Demikian pula tidak wajib menyahut dengan do’a kepada orag yang diketahui tidak suka dido’akan.


Sumber:
Al-Bukhari Imam. 2015. Cetakan ke tiga. Al-Adab Al-Mufrad Jilid-2. Griya Ilmu




Related Posts:

INILAH ALASANNYA MENGAPA MENGUAP BERSUARA DILARANG!

INILAH ALASANNYA MENGAPA MENGUAP BERSUARA DILARANG!

Adam menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abu Dzi’b menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id al-Maqburi menceritakan pada kami, yang artinya:
Dari Abu Hurairah dari Nabi saw beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT menyukai bersin dan membenci menguap. Bilamana bersin kemudian menucapkan hamdalah (memuji Allah SWT), maka atas setiap muslim yang mendengarnya wajib mendoakannya. Sedangkan menguap adalah dari syaitan, karena itu tahanlah semampunya. Jika bersuara (saat menguap terdengar bunyi) ‘haah’, maka syaitan akan mentertawakannya.”

Penjelasan kata:
            Sesungguhnya Allah SWT menyukai bersin dan membenci menguap. Al-Khaththabiy berkata, “Makna dari cinta dan benci di sini adalah kembali pada sebabnya”. Ibnu al-‘Arabiy berkata, “Menguap berasal dari kepenuhan rongga, dan timbul karena kemalasan, yaitu dengan perantara syaitan, sedangkan bersin terjadi karena sedikit makan dan itu membawa pada kegiatan dan itu terjadi dengan perantara malaikat.”

Kandungan hadits:
1.      Di dalamnya terdapat hukum sunnah agar mengucapkan hamdalah (Alhamdulillah) sehabis bersin.
2.      Di dalamnya terdapat isyarat untuk menghilangkan penyebab menguap, yaitu banyak makan.
3.      Bersin dapat menjadi sesuatu yang dicintai Allah SWT jika dapat menjadikan rajin dalam beribadah.

Al-Bukhari Imam. 2015. Cetakan ke tiga. Al-Adab Al-Mufrad Jilid-2. Griya Ilmu


Related Posts:

Menjemput Jodoh

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh...
"TIPS MENUNGGU DAN MENJEMPUT HADIRNYA JODOH"
1. Jangan fokus pada siapa yang harus dipilih. Tapi fokus melakukan perubahan diri yang lebih baik agar pantas mendapatkan jodoh yang baik.
2. Jangan menginginkan seseorang menjadi seperti yang kita harapkan. Tapi bagaimana kita bisa menjadikan diri seperti orang yang kita harapkan.
3. Berusaha memposisikan diri untuk siap lahir batin serta berani menghadapi pernikahan kapanpun jika sewaktu-waktu jodoh telah hadir.
4. Berusaha untuk tidak patah semangat dan trauma terhadap masa lalu yang kurang menyenangkan. Bukalah lembaran baru yang lebih baik mulai hari ini dan untuk hari-hari selanjutnya.
5. Menjalin hubungan persahabatan dan persaudaraan sebanyak-banyaknya. Akan lebih baik jika banyak bergaul dengan sahabat yang baik. Siapa tahu jodoh kita berada di antara mereka.
6. Jangan terburu-buru menilai atau memberi kesimpulan kepada seseorang itu tidak layak bersama kita. Karena sejatinya jodoh itu akan hadir atas ridha Allah. Sedangkan kewajiban kita hanya berikhtiar.
7. Jangan terlalu mengkhawatirkan usia. Di usia berapapun menikah tetap baik jika kita mampu mempertanggungjawabkan pernikahan tersebut di hadapan Allah. Bagi pasangan, keluarga besar serta masyarakat.
8. Teruslah beriikhtiar dan berdoa. Karena doa bisa mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin sesuai kehendak-Nya.
Ya Allah..
Dekatkanlah jodoh orang yang membaca status ini.
Tenteramkanlah hatinya.
Lapangkanlah dadanya.
Bahagiakanlah hidupnya.
Luaskan rezekinya.
Mudahkan segala urusannya.
Kabulkan cita-citanya.
Jauhkan dari segala musibah.
Jauhkan dari segala penyakit, fitnah, prasangka keji, berkata kasar serta kemunkaran.
Aamiin Allahumma Aamiin.

Related Posts:

Pemberi Syafaat ke tiga, Para Nabi dan Rasul

10 PEMBERI SYAFAAT

3. PARA NABI DAN RASUL
            Nabi dan Rasul adalah sosok manusia yang dikaruniai keistimewaan lebih daripada manusia lain. Jabatan istimewa ini tidak diberikan oleh orang dan tidak bisa diusahakan oleh manusia itu sendiri. Perbedaan antara nabi dan rasul adlaah nabi diberi wakyu untuk dirinya sendiri dan menjadi teladan untuk umatnya. Adapun rasul adalah seorang nabi yang merangkap sebagai penyampai risalah kenabian. Dia diwajibkan menyeru umatnya kepada kebenaran. Jadi, semua rasul adalah nabi, sementara belum tentu seorang nabi adalah rasul.
            Nabi dan rasul yang sering disebut hanya 25, tetapi pada hakikatnya jumlah mereka banyak, bahkan mencapai ribuan. Mereka juga dibekali mukjizat sebagai bukti kebenaran bahwa mereka telah diutus dan ditugaskan oleh Allah SWT sebagai seorang rasul. Mukjizat yang dikaruniakan kepada nabi dan rasul sangat beragam. Setiap mereka mendapat porsi sendiri-sendiri. Mukjizat sendiri adalah suatu kejadian luar biasa yang menyalahi kebiasaan dan memiliki kekuatan ajaib di luar nalar manusia. Namun, berkat kuasa Allah SWT, hal itu benar-benar ada dan nyata.
Dari Jabir berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Manakala ahli jannah dan ahli neraka dipisahkan, maka ahli jannah masuk ke jannah, sedang ahli neraka masuk ke neraka. Para rasul pun bagkit untuk memberi syafaat’. (HR Ahmad)
            Awal proses ketentuan Allah Ta’ala setelah seluruh makhluk berkumpul adalah memisahkan antara kadir dan mukmin. Sebab pemisah antara keimanan dan kekufuran merupakan ketentuan dasar yang wajib diutamakan, sebagai bukti bahwa keimanan kepada Allah Ta’ala adalah dasar dari segala amalan di dunia. Usai pemisahan ini, Allah Ta’ala memulai proses pemberian syafaat. Pemberian syafaat ini dipercayakan kepada para rasul.
… kemudian para nabi memberi syafaat pada setiap orang yang menyaksikan bahwa tidak ada sesembahan kecuali Allah SWT dalam keadaan ikhlas maka mereka mengeluarkan orang-orang itu dari neraka. Beliau bersabda, ‘Lalu Alah SWT mengasihi dengan rahmat-Nya atas siapa saja ada padanya maka tidak ada yang masih tersisa di hatinya keimanan sebesar atom kecuali dia pasti keluar dari neraka’. (HR Ahmad). B




Pustaka
Habiby Ukasah. 2011. 10 Pemberi Syafaat: Mengenal para Penolong di Hari Kiamat.


Related Posts:

Syafaat Ke dua, Rasulullah saw (10 Pemberi Syafaat)

10 PEMBERI SYAFAAT

2. RASULULLAH MUHAMMAD SAW

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat Tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhan mengangkatmu ke tempat yang terpuji (QS Al-Isra’ [17]:79)

            Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa Allah SWT akan membangkitkan Nabi Muhammad saw ditempat kedudukan yang mulia. Para ahli tafsir menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “Maqamanmahmudan” merupakan kedudukan Nabi saw yang dijanjikan Allah SWT. Ini menjadikan kedudukan agung yang dikhususkan untuk beliau, tak diberikan pada nabi dan rasul lain. Kedudukan ini adalah pemberi syafaat untuk umatnya.y
            Syafaat Rasulullah saw merupakan syafaat terbesar setelah Allah SWT. Syafaat beliau tersedia sejak dihisabnya amal hingga shirath dan itu tidak terlepas dari keridhaan Allah SWT. Bagi orang yang mencintai Nabi, syafaat beliau adalah harapan yang sangat dinanti. Namun, banyak orang keliru dalam memahami syafaat, bahkan sebagiannya terjerumus dalam praktek kemusyrikan karena tidak memahami masalah ini dengan benar. Baca selengkapnya mengenai syafaat di https://buletin.muslim.or.id/aqidah/jangan-salah-meminta-syafaat
            Semua nabi mendapatkan jatah dari Allah SWT mendoakan umatnya masing-masing. Jatah doa ini jika dipanjatkan, pasti akan dikabulkan. Namun, Allah SWT Sang Penguasa segalanya memberi kesempatan berharga kepada Rasulullah saw. Beliau memutuskan untuk menunda kesempatan ini hingga menjadi tabungan di akhirat kelak. Tabungan syafaat untuk umatnya yang membutuhkan.
            Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadist yang diriwayatkan oleh Imam Nawawi tersebut mengandung penjelasan tentang kesempurnaan syafaat Nabi saw bagi umat beliau. Kelembutan hati dan kasih saying yang begitu mendalam sekaligus hasrat besar mementingkan kebutuhan umat, mendorong beliau untuk terus menunda hingga benar-benar pada kondisi kritis. Sebagaimana terangkum dalam Hadist berikut ini.
“Dari Ma’di Kariba bin Abdu Kilal, dia berkata, ‘Aku mendengar dirinya pada hari Jum’at, sedangkan dia berdiri di atas mimbar, menceritakan dari ‘Auf bin Malik as’Asyja’I dia menyampaikannya kepada Rasulullah saw. Dia berkata, ‘Kami keluar bersama Rasulullah saw pada sebagian peperangan beliau. Aku takut pada suatu malam, ternyata semua binatang meletakkan pipinya di tanah. Dan aku tidak melihat pasukan kecuali keterlambatan perjalanan. Lalu, aku mendatangi tempat tinggal Nabi saw dan ternyata beliau tidak ada di dalamnya. Kemudian, aku pindah menuju semak belukarnya tumbuh-tumbuhan berbuku dan beruas, aku mendengar suara gemerincing. Aku mendapati dua orang, lalu aku dating kepada mereka berdua. Merekaadalah Mu’adz bin Jabal dan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarah, kemudian aku mengucapkan salam atas keduanya dan bertanya, ‘Apa yang menjadikan kalian keluar?’ Keduanya menjawab, ‘Telah membuat ami keluar apa yang membuatmu keluar dalam pencarian Nabi saw/ Ketika mereka sedang berdiri melihat-lihat. Tiba-tiba Nabi saw keluar dan berucap, ‘Apakah di sana ada ‘Auf bin Malik Al-Asja’i?’ Dia menjawab, ‘Ya, wahai Nabi Allah. Ini aku’. Kemudian mereka berdua berjalan sampai keduanya datang bersama Rasulullah saw beliau bertanya, ‘Apakah kalian tahu apa yang membuatku keluar?’ Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu’. Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya Jibril dating kepadaku, kemudian mengeluarkanku, maka jadilah seperti yang kalian saksikan. Dan sesungguhnya Pemeliharaku menyuruhku untuk memilih antara dua sesuatu; bahwasanya setengah dari umatku akan masuk surge dan (pemberian) syafaat untuk umatku. Lantas aku memilih (pemberian) syafaat untuk umatku. (HR Ahmad)
            Paket syafaat yang dipercayakan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw adalah kelapangan di hari kiamat dan disegerakan perhitungan amalan manusia. Umat Rasulullah saw yang termasuk generasi akhir umat manusia, mendapatkan prioritas hisab lebih awal daripada umat sebelumnya. Ketika umart Rasulullah saw semuanya selesai dihisab, barulah kemudian umat nabi-nabi yang hidup sebelum beliau pun dihisab. Sebelum umat Rasulullah saw selesai dihisab, mereka menunggu. Hisab mereka diakhirkan meski generasi mereka hidup lebih awal. Subhanallah


Baca Juga





Pustaka
Habiby Ukasah. 2011. 10 Pemberi Syafaat: Mengenal para Penolong di Hari Kiamat.

Related Posts:

Sayafaat ALLAH AZZA WA JALLA - 10 Pemberi Syafaat

10 Pemberi Syafaat

Dari Jabir berkata, “Aku mendengar Nabi saw bersabda, “Tiap-tiap hamba dibangkitkan pada keadaan matinya.” (HR Muslim)
Para ulama berpendapat, maksudnya adalah seorang hamba dibangkitkan dalam keadaan yang dia mati padanya, sebagaimana pada hadist lain sesudahnya, yang menyebutkan (kemudian mereka diutus sesuai niat mereka).
            Awal penetapan hari kebangkitan, manusia digiring menuju ke suatu padang luas (Padang Mahsyar) untuk dihisab. Pada saat itu, setiap jiwa dibangkitkan sesuai akhir kehidupannya dahulu. Jika ia mati dalam kondisi tercabik-cabik pedang, dia pun dibangkitkan dalam kondisi tercabik-cabik. Jika akhir hidupnya dalam keadaan gantung diri, dia pun akan dibangkitkan dalam keadaan gantung diri.
            Semua manusia dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan segala amalan di dunia. Tidak ada satu pun yang tercecer, dari yang terkecil hingga yang terbesar. Terkadang orang sering mengabaikan hal kecil karena dianggap remeh. Padahal, itu bisa menyulut sesuatu menjadi besar. Segala amal manusia pasti dicatat, dibukukan, dan diserahkan kepada masing-masing pemiliknya. Nilai rapot kehidupan dunia berdasarkan pada amalan ang baik ataupun yang buruk.
            Saat perhitungan amal ini, orang-orang kafir dan munafik jelas paling menyesal karena kekufuran mereka selama di dunia. Adapaun munafik bersikeras untuk disatukan dengan mukminin. Mereka menyangka diri mereka adalah orang beriman semasa di dunia. Namun, usaha mereka sia-sia. Status resmi sebagai penghuni neraka telah disahkan oleh majelis pengadilan Allah.
            Selesai pendataan atau hisab tersebut, buku rapot berterbangan kea rah pemilik pasing-masing. Bagi orang mukmin, mereka akan menerima dari arah depan dengan tangan kanan. Adapun rapot orang kafir dating dari arah belakang sertai sodokan keras, lalu tangan kirinya menerima rapot tersebut.
            Proses penerimaan rapot berjalan bersamaan dengan berlangsungnya mizan amalan. Betapa kompleks data-data serta hujjah yang Allah SWT siapkan di pengadilan akhirat nanti. Hal itu membuktikan keakuratan penilaian yang telah tercatat.
            Ketika proses hisab tengah berlangsung, ada momen dahsyat yang menunjukkan amalan seseorang semasa di dunia, meski belum tiba gilirannya untuk dihisab. Orang-orang yang berkumpul di sana merasakan kepanasan dan kepenatan tiada berujung. Kondisi panas itu menghasilkan keringat. Seberapa banyak keringat dari setiap diri berbeda-beda. Uniknya, kadar banyak sedikit keringat berdasarkan baik buruk amalan masing-masing. Ada yang keringatnya semata kaki, sebetis, selutut, sepinggang, sedada, bahkan berenang sembari timbul tenggelam dalam kubangan keringatnya sendiri.  Tampaklah baik buruk seseorang meskipun belu dihisab. Pada momen seperti inilah, syafaat sangat dibutuhkan.
            Setelah laporan nilai ditentukan, dimulailah ketengangan selanjutnya, yaitu menyebrangi shirath (jembatan). Saat inilah manusia berada pada puncak kecemasan dan ketakutan tiada berujung dan membutuhkan para pembawa syafaat. Ada 10 pemberi syafaat yang menjadi syafi’ kelak diakhirat.

1.   ALLAH AZZA WA JALLA
        Allah SWT sebagai pencipta alam semesta ini berhak mendapatkan hak-Nya. Hak sebagai Dzat pemilik sekaligus pengatur jalan hidup makhluk di dunia maupun di akhirat.
“Katakanlah! Pertolongan itu hanya milik Allah SWT semuanya. Dia memiliki kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya kalian dikembalikan. (QS Az-Zumar:44)
        Rasulullah S'AW bersabda: "Hingga akhirnya Al-Jabbar berfirman 'Yang tersisa tinggal syafa'at-Ku'. Selanjutnya Allah Menggenggam dari neraka satu genggaman untuk mengeluarkan kaum-kaum yang benar-benar telah hangus. Mereka diletakkan di sungai bernama air kehidupan yang berada di mulut-mulut surga. Selanjutnya mereka tumbuh di dua pinggirannya bagaikan biji-bijian yang tumbuh di dalam bawaan banjir. Kalian pasti pernah menyaksikan hal tersebut di sisi batu besar di sisi sebuah pohon. Yang condong ke arah matahari menjadi hijau; sementara yang condong ke arah teduh memutih. Akhirnya mereka keluar dari kawasan tersebut dalam keadaan indah mirip sekali mutiara. Ada cap-cap yang dicap-kan di pundak-pundak mereka. Akhirnya mereka masuk surga." (HR. Bukhari, 7439).
        Kekuasaan di dunia dan di akhirat berada di bawah kendali Allah SWT, tidak bisa diganggu gugat. Namun, saat di dunia manusia masih diberi kebebasan. Adapun saat hari kiamat, semua kekuasaan mutlak di tangan Allah SWT. Segala sesuatu yang terjadi di sana bersih dari campur tangan makhluk. Saat itu mayoritas manusia mengalami keputusasaan yang tiada berujung.
        Bagi orang yang sering berbuat maksiat dan belum sempat bertaubat, lalu mati dengan embawa banyak dosa yang belum terhapus, jika di hatinya masih ada setitik keimanan, Allah SWT telah menjanjikan surga tingkatan paling rendah buat mereka.

Baca juga




Pustaka
Habiby Ukasah. 2011. 10 Pemberi Syafaat: Mengenal para Penolong di Hari Kiamat.



            

Related Posts:

Syafaat

            Syafaat berasal dari kosakata bahasa Arab yang berarti menggabungkan sesuatu dengan sejenisnya. Syafaat bisa juga berarti perantara atau permintaan. Dalam istilah fiqih, stafaat berarti permintaan kebaikan untuk orang lain.
            Syafaat sangat penting artinya pada hari kiamat karena merupakan sebuah permintaan untuk mendapatkan satu-satunya pertolongan dengan tujuan menjauhkan keburuka dari dirinya. Jadi, pertolongan ini diberikan kepada orang pilihan untuk disalurkan kepada masyfu’ (yang menerima syafaat), demi mendapatkan kebebasan dari siksa.
            Syafaat ini hanya ada dikehidupan kedua setelah kematian. Syafaat hanya ada ketika Allah SWT meridhai orang yang memberi syafaat dan diberi syafaat, kemudian Allah SWT mengijinkan pemberi syafaat untuk memberikan syafaat.
            Bagi orang yang mencintai Nabi, syafaat beliau adalah harapan yang sangat dinanti. Namun, banyak orang keliru dalam memahami syafaat, bahkan sebagiannya terjerumus dalam praktek kemusyrikan karena tidak memahami masalah ini dengan benar.

Baca juga
http://belajarislamdwinisa.blogspot.co.id/



Pustaka
Habiby Ukasah. 2011. 10 Pemberi Syafaat: Mengenal para Penolong di Hari Kiamat.

Related Posts:

SYAFAAT

Syafaat

            Syafaat berasal dari kosakata bahasa Arab yang berarti menggabungkan sesuatu dengan sejenisnya. Syafaat bisa juga berarti perantara atau permintaan. Dalam istilah fiqih, stafaat berarti permintaan kebaikan untuk orang lain.
            Syafaat sangat penting artinya pada hari kiamat karena merupakan sebuah permintaan untuk mendapatkan satu-satunya pertolongan dengan tujuan menjauhkan keburuka dari dirinya. Jadi, pertolongan ini diberikan kepada orang pilihan untuk disalurkan kepada masyfu’ (yang menerima syafaat), demi mendapatkan kebebasan dari siksa.
            Syafaat ini hanya ada dikehidupan kedua setelah kematian. Syafaat hanya ada ketika Allah SWT meridhai orang yang memberi syafaat dan diberi syafaat, kemudian Allah SWT mengijinkan pemberi syafaat untuk memberikan syafaat.
            Bagi orang yang mencintai Nabi, syafaat beliau adalah harapan yang sangat dinanti. Namun, banyak orang keliru dalam memahami syafaat, bahkan sebagiannya terjerumus dalam praktek kemusyrikan karena tidak memahami masalah ini dengan benar.

Baca juga



Pustaka
Habiby Ukasah. 2011. 10 Pemberi Syafaat: Mengenal para Penolong di Hari Kiamat.

Related Posts:

SAAT KIAMAT DATANG

SAAT KIAMAT DATANG

            Salah satu peristiwa yang pasti akan terjadi di masa yang tidak akan lama lagi adalah datangnya waktu kehancuran dunia dan alam semesta seluruhnya. Peristiwa itu dikenal dengan nama hari kiamat. Pada hari itu, terjadi kehancuran dan kekacauan yang maha dahsyat. Tidak ada satu tempatpun yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk menyelamatkan diri dan tidak ada satu orangpun yang menyelamatkan orang lain. Masing-masing orang hanya memikirkan keselamatan diri sendiri.
Kedahsyatan hari Kiamat menggambarkan kehebatan kuasa Allah SWT sebagai penciptanya. Hari Kiamat wajib diyakini karena sebagian dari rukun iman.  Hari akhor hayat dunia itu diawali dengan tiupan sangkakala Malaikat Israfil, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya.
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) sangkakala ditiup, maka terkejutlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah SWT. Dan semua mereka dating menghadap-Nya dengan merendahkan diri”. (QS An-Anml:27).
            Konon, gempa bumi paling dahsyat di dunia terjadi di Jepang dengan kekuatan 9,0 richter. Gempa tersebut telah memporak-porandakan Jepang tanpa sisa. Gempa paling dahsyat yang hanya terjadi beberapa detik itu menghancurkan segalanya walaupun belum sampai membalikkan isi perut bumi. Adapun hari kiamat nanti, gempa akan berlangsung terus-menerus, seolah tiada henti sekaligus mengeluarkan perut bumi dan melenyapkan permukannya.

“(Ingatlah) pada hari (ketika) bumi dan gunung-gunung berguncang keras, dan menjadilah gunung-gunung itu seperti onggokan pasir yang dicurahkan”. (QS. Al-Muzzammil: 14)

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncagnan yang dahsyat dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandungnya”. (QS. Az-Zalzalah: 1-2)

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa”. (QS. Al-Ibrahim:48)

Gunung yang tegak nan kukh berhamburan bagaikan kapas.
“Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan.” (QS. Al-Haqqah: 14)

Langitpun terbelah dan hancur lebur.
“(Ingatlah) pada hari ketika langit menjadi bagaikan cairan tembaga”. (QS. Al-Ma’arij:8)
“Apabila langit terbelah”. (QS.Al-Insyiqaq:1)

            Dengan kondisi yang dahsyat itu, manusia kebingungan mencari tempat aman. Seorang ibu yang tengah menyusui, melarikan diri tanpa memperdulikan anaknya. Anak-anak kecil seketika berubah karena takut akan kejadian pada hari itu.
            Semedikian dahsyatnya kejadian oada hari kiamat, tidak ada lagi HAM yang selama ini digadang-gadangkan. Keyakinan akan hari Kiamat tidak hanya menjadi anjuran umat Islam, tetapi seluruh umat manusia. Tak seorangpun tahu kapan terjadinya hari kiamat, sekalipun Rasulullah saw, yang telah diberi jabatan sebagai pembawa berita tentang hari kiamat ini.
            Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan dating kepadamu kecuali secara tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari kiamat) ada pada Allah SWT, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Al-A’raf:187).
            Dalam ayat yang lain juga disebutkan mengenai hal ini.
“Sesungguhnya hanya di sisi Allah SWT ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam Rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman:34).
            Dalam ayat lain juga, “Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, “kapankah hari terjadinya?” Untuk apa engkau perlu menyebutkannya (waktunya)? Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya). Engkau (Muhamad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat). Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari”. (QS. An-Nazi’at: 42-46).
            Satu hal lagi yang menggambarkan kedahsyatan di hari kebangkitan kelak adalah keegoisan. Keeogoisan manusia du dunia belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yang akan erjadi pada hari kiamat. Egois dunia masih diimbangi dengan adanya sisi kemanusiann yang sesekali muncul. Pada hari Kiamat, rasa perikemanusiaan hilang sama sekali karena keinginan manusia untuk selamat dari api neraka.
            Keputusan surga atau neraka adalah akhir dari proses panjang. Adapun proses itu sendiri memiliki aneka ragam peristiwa yang sangat menyiksa, terutama bagi orang kafir dan ahli maksiat. Pada hari Kiamat, setelah semua makhluk dimatikan, mereka akan dibangkitkan dengan sekali entakan. Kemudian, Allah SWT memindahkan mereka ke padang yang berwarna putih kemerahan, Padang Mahsyar, yang menjadi ruang tunggu untuk dimulainya perhitungan amal.  Ribuan tahun menunggu dengan kondisi matahari dekat dengan kepala.
            Pada saat itu, semua orang butuh bantuan dan penyelamatan. Tak ada base camp pengungsian karena semua dataran, pijakan, dan riungan dihancurlenurkan.  Di saat seperti itu, orang-orang kafir jelas tidak ada harapan lagi untuk selamat sebab menyadari tidak ada maaf untuk mereka. Namun, kesadaran itu tak menyurutkan nyali mereka untuk berspekulasi dengan cara menyuap Allah SWT. Tanpa sungkan mereka menjadokan anak, istri, saudara, dan kerabat, bahkan mungkin seluruh manusia di bumi, jika bisa, untuk menebus keselamatan dirinya sendiri.
“Sedang mereka saling melihat. Pada hari itu, orang yang berdosa ingin sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab dengan anak-anaknya, dan istrinya, dan saudaranya, dan keluarga yang dilindunginya (di dunia), dan orang-orang di bumi seluruhnya, kemudian menharapkan (tebusan) itu dapat menyelamatkannya. Sama sekali tidak! Sungguh, neraka itu api yang bergejolak”. (QS. Al-Ma’arij :11-15).
            Ketegangan dan rasa takut pada saat itu menghilangkan kasih sayang satu sama lain, sekalipun hubungan antara anak, dan orang tua ataupun pasangan kekasih.
“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf:67).
            Imam Sayuthi di dalam kitab ad-Duruul Mashur menjelaskan bahwa hubungan kasih saying antara satu manusia dan yang lain berubah menjadi permusuhan. Segala kasih saying dan percintaan tak tersisa sama sekali. Nuansa cinta kasih dan kelembutan yang dahulu sempat bersemi di taman hati sehingga terpatri sebuah janji untuk sehidup semati, seketika itu berbalik 180 derajat, kecuali orang-orang yang bertakwa.
            Orang-orang yang bertakwa saling mencintai karena Allah Ta’ala, menyandarkan rasa saying itu kepadanya tanpa mengurangi porsi hak Allah SWT sebagai Dzat yang paling utama untuk dicintai. Cinta karena Allah SWT ini menggiring seseorang untuk selalu menjaga hal masing-masing tanpa keberpihakan yang tidak adil. Biasanya orang yang dilanda rasa cinta dan saying hanya mampu melihat kebaikan dari orang yang dicintainya. Mereka sulit untuk objektif, sulit menegur saat orang yang dicintainya melakukan kesalahan, dan sulit menyalahi meskipun jelas menyimpang.
Rasulullah saw bersabda, “Para kekasih itu ada empat: dua orang mukmin dan dua orang kafir. Ketika salah satu mukmin itu meningeal kemudian dimasukkan ke jannah. Mukmin yang meninggal tadi mendoakan untuk saudaranya yang masih hidup, “Ya Allah, aku belum pernah mendapati seorang kekasih yang bersungguh-sungguh memerintah pada hal yang ma’ruf dan bersungguh-sungguh melarang dari hal munkar selai dia. Ya Allah, jangan Engkau sesatkan dia sesudahku sehingga dia melihat apa yang telah Engkau perlihatkan padaku, dan Engkau rida sebagaimana Engkau telah meridaiku.’ Adapun orang kafir yang mati dan dimasukkan ke neraka, dia mendoakan keburukan ke neraka, dia mendoakan keburukan kepada saudaranya sesame kafirnya, ‘Ya Allah, sesungguhnya kekasihku itu meyuruhku pada kemungkaran dan melarangku untuk berbuat yang ma’ruf, maka jangan Engkau tunjuki dia hingga dia melihat apa yang telah Engkau perlihatkan padaku, Engkau murka sebagaimana Engkau murka kepadaku’. (HR. Abd bin Humaid).
            Itulah salah satu gambaran yang mendukung kedahsyatan hari Kiamat kelak. Di akhir kelak, seluruh manusia tumpah ruah di lapangan tandus tanpa angin ataupun naungan. Matahari berjarak satu jengkal dari kepala. Bumi yang dahulu terbuat dari tanah diganti dengan tembaga yang sifatnya mudah menyerap panas. Itulah penggambaran kedahsyatan kondisi hari Kiamat dan besarnya harapan manusia pada pertolongan atau syafaat.
            Orang kafir yang dahulu saling mengasihi dan saling membantu, ketika dibangkikan justru saling mengolok satu sama lain, bahkan melaknat satu sama laim. Mereka menyadari bahwa saat itu hubungan kasih saying semasa di dunia tiada berarti. Mereka saling mengolok karena merasa jengkel diseret dan digiring menuju kebinasaan abadi.
           
Habiby Ukasah. 2011. 10 Pemberi Syafaat: Mengenal para Penolong di Hari Kiamat.

Related Posts: